Selamat siang kepada kamu, jatuhku yang paling palung
Maaf karena aku tidak akrab dalam menyampaikan perasaanku
lewat suara, tapi percayalah semua tentangmu aku tulis indah dalam rangkaian
kata.
Maka, mungkin, kalimat demi kalimat yang suatu hari nanti
akan kamu baca ini, akan terdengar sumbang.
Kala menulis tulisan ini, aku tidak memikirkan apa pun –
selain bagaimana mungkin semuanya berlalu begitu cepat? Tidak ada yang salah,
kecuali kamu dan aku yang adalah sepasang salah, dipertemukan yang kemudian
dipisahkan oleh waktu. Lucu bukan, bahkan waktu pun tahu kapan harus
menghentikan semuanya ini.
Aku masih ingat dengan sangat – tentang kali pertama kita
bertemu. Duduk berdua menikmati harum semerbak kopi. Sore itu, matahari
bersembunyi di balik awan. Dia terlihat malu, sama sepertiku yang kala itu
berusaha berusaha sembunyi di balik obrolan konyol. Walau sesekali kita tidak
sengaja beradu tatap di bawah lampu kuning yang remang, namun lagi-lagi, semua
kusembunyikan rapi dalam obrolan yang tak bertepi.
Kau tahu, saat kita mulai berbicara, aku seperti tengah
menemukan diriku sendiri sedang bermonolog. Aku menemukan banyak kesamaan di
antara kita. Seperti, caramu melihat hidup. Tentang bagaimana kamu menghabiskan
waktu luangmu. Atau, leluconmu yang aneh tapi cukup menghibur. Kala itu, aku
cukup memerhatikanmu, setiap gerakmu, setiap kata yang keluar dan setiap senyum
yang terlukis indah di wajahmu. Kamu unik, cukup unik untuk membuatku
menuliskan semua ini. Tapi sayang, aku rasa kamu tidak menyadarinya. Tenang,
aku tidak sedang merayumu. Tanya saja pada setiap kalimat yang kutuliskan tulus
untukmu. Berharap kata demi katanya tidak akan membuatmu jenuh sewaktu membaca.
Sekarang aku mulai sering bertanya, adakah sesuatu yang
lebih kubutuhkan selain memastikan? Memastikan bahwa kamu dalam keadaan baik
setiap harinya. Memastikan bahwa aku tidak akan terbawa rasa. Memastikan dengan
segenap kewarasanku dan penerimaanku bahwa mungkin, pertemuan kita
sebijak-bijaknya adalah cara untuk saling memberikan pembelajaran. Lantas, ketika
sudah diberi, apa yang akan kita cari? Akan kah aku tetap menuliskan semua
tentangmu atau akan kah kita saling menjauh, mencari tempat lain untuk berkeluh atau hati lain untuk berlabuh?
Atau mungkin, akan kah kita saling bertahan? Walau aku tahu jarak di antara
hatiku dan hatimu, tidak pernah mengecap kata dekat, bukan?
Sementara, biar pertanyaan ini terbenam bersama hangatnya
musim kemarau yang ditemani swastanita. Bukan karena aku tidak mau tahu
jawabannya. Hanya saja, aku belum siap mendengarnya. Maaf ya, aku memang sering
kali menanggapi sesuatu secara berlebihan – termasuk dalam perkara mengenalimu.
Dariku,
Yang berusaha membunuh rasa kepemilikan.
19 Juli 2022.
Sekarang pukul 16.10