Tuesday, January 20, 2015

Between The Tears

Hari- hari ini terasa begitu melelahkan sekaligus begitu menyenangkan buat aku. Aku yang kebiasaan sekolah naik motor pribadi, sekarang harus naik Trans Jogja. Aku yang kebiasaan bangun agak siang sekarang harus bangun benar-benar pagi. Jujur, ini terasa begitu berat buat aku. Tapi karna ini keputusan aku jadi aku harus bisa menerima segala kemungkinan dan segala resiko yang ada. Like what i said before "Every Decision Have A Risk", di post aku yang sebelumnya aku membahas tentang penyesalan yang terjadi, tapi setelah aku pikir-pikir lagi ternyata hal yang aku lakukan selama ini cuma buang-buang waktu ku saja. Memang sih menyesal itu baik, tapi penyeslan juga gak harus berlarut-larut, "Life Must Go On".

Sekarang aku sadar, aku telah melakukan kesalahan terbesar bagi diriku sendiri. Banyak yang nilai kalau aku orangnya terlalu gengsi, agak sombong, cerewet, suka ngebantah, dan lain-lain. Setelah penilaian demi penilaian datang aku baru sadar bahwa apa yang aku lakukan selama ini itu salah. Mungkin setelah dipikir ulang, apa yang Opa katakan itu bener juga sih "I'm to much pay attention with outside world than with my self'", dan itu menjadi salah satu penyebab kenapa nilai aku bener-bener jatuh, dan kenapa belakangan ini aku sering dimarah. Setelah curhat ke guru BK, dan ke keluarga, aku jadi dapet banyak pelajaran yang begitu berharga. Bahkan aku juga dapet banyak kata-kata yang buat aku termotivasi.

Yes, that is true. I try to act and to be like an Angel, padahal aku tau kalau aku gak bisa jadi kaya Malaikat, Im just a human being like others. Kata-kata itu udah sering aku denger dari Opa, mungkin setelah puluhan kali kata itu terucap aku baru sadar arti nya. "Remember the iceberg" itu juga kata yang gak buat telinga aku, yang artinya "kita hanya melihat apa yang terlihat dari luar, padahal banyak sesuatu yang enggak kita lihat di dalam". Aku mulai belajar untuk menjadi lebih dewasa dari yang sebelumnya, tapi.. kok kayaknya susah sih? kadang-kadang aku sempat berpikiran untuk nyerah aja lah, tapi aku punya pengharapan yang kuat, yang jadiin aku bertahan sampai detik ini (gak tau kedepannya). Aku pernah ada pikiran "nyalahin" Tuhan, dalam hati aku berkata "Tuhan, kok cara untuk jadi orang yang lebih sukses susah banget?" tapi pemikiran itu gak berjalan dengan lama. Kakak ku yang ngingetin aku untuk MENIKMATI SETIAP PROSES dan aku pun tersadar. Bahkan sekarang aku mulai ngerti bahwa Tuhan sendiri punya 3 jawaban untuk segala sesuatunya, yaitu IYA, TUNGGU, dan TIDAK. Aku mulai belajar dari kesalahan-kesalahan aku, misalnya sekarang aku harus lebih sabar dengan segala sesuatu, think twice before doing something, gak boros, lebih fokus, gak mudah putus asa dan nyerah, dan yang terpenting adalah "meyerahkan segalanya kepada Tuhan, dalam iman, pengharapan, dan keyakinan." kita kan manusia, gak bisa nebak masa depan, jadi lebih baik kita bersandar pada Tuhan kan?.

Hampir dua minggu ini aku ngerasa hari-hari ku cuma penuh dengan tangisan, aku ngerasa gak ada damai sejahtera, gak ada sukacita, gak ada canda, dan gak ada senyuman. Aku pikir semuanya palsu, dan dari kepalsuan ini aku mulai membenci satu persatu orang-orang yang ada disekitar ku. Well, kebencian ini timbul karna beberapa faktor yang untuk sekarang masih terlalu susah dijelaskan. Aku bingung mau ngapain selama 2 minggu ini, aku ngerasa "hopeless", seperti gak ada satupun orang yang mau peduli sama aku. Tapi Tuhan hadir disaat aku bener-bener butuh Dia. Yeah, "Between The Tears There Is Always A Hiding Smile" aku mulai tersenyum ditengah-tengah air mata ku dan mulai menatap semuanya dengan sisi positive alasannya "If u always see the problem in a negative side, then u will always find the negative solution. But if u always see the problem in a postive side, then what u find is the positive solution with the new spirit". 

Semenjak itu, aku mulai ngerasa 'betterr' mungkin yang tadinya 10,00 sekarang jadi 10,02. Setidaknya aku punya peningkatan, walau gak signifikan. Aku seneng dan berterimakasih buat Tuhan yang sudah ngasih aku kepercayaan untuk ngelewatin ini semua. Dan pada akhirnya aku berharap dalam masalahku selanjutnya aku diberi kekuatan untuk melewatinya, Tuhan gak berjanji akan meredakan badai secara instant tapi Ia berjanji untuk selalu ada disamping kita saat kita melewati badai tersebut. Aku harap melalui tulisan sederhana ini kalian bisa mengambil makna dan hal positive, dan mungkin bisa memberi motivasi dan semngat baru dalam menjalani hari-hari yang penuh warna. Thank u dear


Friday, January 16, 2015

Maybe Is Too Late

Aku bingung mau mulai dengan kalimat dan kata-kata kaya gimana. Mungkin ini yang namanya keputusan dan mungkin ini yang namanya resiko atau mungkin ini yang namanya penyesalan, karena penyesalan selalu datang terlambat, dan pada akhirnya dari penyesalan tersebut kita hanya bisa mengambil sebuah pelajaran.
Mungkin selama 3 bulan pertama di SMA itu rasanya enak, tapi lama-lama aku gak bisa boongin kata hati ku sendiri, apalagi aku harus sekolah di sekolah homogen yang penghuninya cuma cewek. Dari awal pendaftaran SMA aku sama sekali gak ada niat untuk sekolah di sekolah swasta, sama sekali 0% aku gak pernah punya mimpi sekolah di swasta. Kalau pun ada aku pengennya cuma di Stece bukan Stero. Entah kenapa kemarin aku bisa masuk Stero, sumpah demi seribu cowgan aku gak niat masuk sana. Ada satu hal kenapa aku bisa masuk sana, yaitu karena pengaruh kata-kata dari Patrick orang yang sekarang entah kenapa aku benci dia, kata-kata dia yang begitu manis dan sanggup boongin aku dengan segala kemewahan, dan kemegahan, serta didukung dengan iming-iming nanti gampang nyari Universitas dan mungkin punya banyak social networking (30% bener 70% salah BESAR), jadinya aku kepengaruh deh. Padahal niat aku dari kelas 8 SMP pengen masuk SAKA, salah satu sekolah favorit di Sleman. Ya, mungkin ada rencana Tuhan juga, kenapa aku masuk di Stero. Tapi entah kenapa sampai sekarang aku belum nemuin kecocokan atau setidaknya ada rasa seneng lah sekolah di Stero.

Dari awal sih papa mama udah ngasih saran untuk sekolah di Negeri, selain faktor biaya juga kan nanggung nilai Ujian Nasional aku yang cukup masuk negeri kenapa harus milih swasta. Aku akui sekolah ku memang termasuk elite di Jogja, ya kebanyakan chinese semua, bahkan ada yang blasteran luar negeri, tapi serius demi apa aku gak ada kepikiran masuk sekolah di Stero. Back to story, keluarga aku prinsip nya sih bebas ya, terserah anak nya mau milih apa, asal dia tau konsekuensi nya dan asal gak menyimpang dari agama serta moral sih ortu dukung-dukung aja. Kalau dibilang nyesel sih pasti nyesel juga lah sekolah disini tapi waktu gak bisa diputer balik, mau gak mau aku harus jalanin semuannya.

Jujur nih, aku betah kok tinggal di Jogja, tapi bukan tinggal di HdT. 2 tahun kemaren sih betah-betah aja, tapi menginjak tahun ke-3 rasa betah itu mulai pudar secara perlahan. Semenjak bulan Desember kemaren banyak banget masalah yang dateng ke aku, entah mulai nilai aku turun, di fitnah, di bilang belum bersihin kamar, dibilang gak fokus, dibilang "too much pay attention with outside world" lah, pokoknya banyak deh, masuk tahun baru pun gak ada yang baru. Dan di bulan Januari ini aku dimarah gara-gara masalah accounting yang sebenernya bukan sepenuhnya salah aku.

Aku capek hidup kalau caranya terus kaya gini. Seakan-akan cobaan dateng dari segala arah. Aku tau ortu aku bukan orang yang kaya, mereka ekonominya pas-pasan tapi selalu tercukupi oleh tangan Tuhan. Tapi, gak gini juga cara mereka nginjek-nginjek harga diri ortu ku. Di bulan Desember 2014 aku kepikiran untuk bunuh diri udah 2 kali, terus sekarang di bulan Januari aku kepikiran untuk bunuh diri 1 kali. Aku stress hidup di HdT, masalah dateng silih berganti. Tapi, aku gak punya pilihan lain, walaupun papa mama udah ngasih kebebasan buat aku untuk lepas dari HdT. Tapi, secara manusiawi aku masih mikirin adek ku yang baru kelas 2 SD dan kakak ku yang masih kuliah. Jadi, seakan-akan ortu ngandelin aku untuk bertahan di HdT. Kakak ku sendiri bilang kalau bisa ya dikuatin sampai lulus SMA, tapi apa ya aku bisa. Yang ada dipikiranku saat ini sekarang cuma pengen amnesia seketika kalau enggak ya mati udah gitu aja.

Aku sampai berpikir dan sempet nyalahin Tuhan, tapi untungnya aku punya ortu dan keluarga yang selalu ngingetin aku kalau Tuhan itu punya rencana tersendiri. Kenapa aku bisa nyalahin Tuhan? karena aku mikir, "Tuhan kenapa sih orang kaya Angel yang pengen sukses kok jalannya berbelit-belit gini. Kenapa sih gak instant atau ada gak cara sukses yang gak harus kaya gini?" ya pikiran itu langsung dateng seketika aku sedang stress. Tapi, aku punya keluarga yang luar bisa percaya sama Yesus yang mengajrkan aku bagaiman kita harus percaya akan rencana-Nya dan harus percaya setiap cobaan gak akan melebihi batas kemampuan kita, tapi kan aku manusia pastilah ada kepikiran unutuk kaya gitu. Gak cuma itu, aku bahkan pengen bunuh Patrick dengan ngeracunin makanannya, tapi ngebunuh itu dosa, dan kalau aku masuk penjara bisa panjang urusannya, jadi aku urungkan niat aku.

Intinya sekarang, aku pengen keluar dari HdT. Aku tertekan secara batin, dan emosional. Bagiku udah cukup untuk tinggal di HdT selama 2 tahun. Udah gak ada yang perlu diandelin. Aku nyesel dengan keputusan aku, tapi dari semua ini aku mencoba untuk mengambil pelajaran yang berharga.