Namaku Ni Kadek Bianca
Dominuque Cassanova, aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Tepat 3 hari
yang lalu, umurku 16 tahun. Aku tinggal di keluarga yang sangat berkecukupan,
maklum saja papa ku blasteran Prancis dan memiliki pekerjaan sebagai seorang
businessman, dia sekarang sedang menjalankan karir nya di Jepang, sedangkan
mama ku sendiri orang Bali yang memiliki sebuah boutique terkenal di daerah
Kuta, Bali. Kakakku bernama Ni Putu Arletha Cassanova dan adikku bernama I
Komang Yohan Castillo Cassanova, selisih kami bertiga tidak jauh berbeda, dan
itu yang menjadikan alasan mengapa kami bertiga selalu kompak.
Hari semakin gelap,
dan hujan mulai mengguyur daerah Kuta, kami berdua yang menunggu jemputan
sedari tadi pun mulai menggigil kediginan, entah sudah berapa lama kami
menunggu jemputan disini. Tapi, mobil Pajero Hitam tersebut tak kunjung datang.
Aku yang sudah tidak sabar, akhirnya menghampiri mama yang masih ada di dalam
boutique.
“Ma, Pak Mamat kok lama sekali sih? Aku kedinginan Ma.” tanyaku pada mama, dengan nada protes
“Mungkin di jalan sedang macet Anca, kamu tidak boleh mengomel seperti itu. Walaupun Pak Mamat bekerja sebagai seorang sopir pribadi kita, tetapi kita harus tetap menghargainya Ca.” jawab mama panjang lebar
“Ma, Anca kan cuma tanya kenapa Pak Mamat lama sekali. Kenapa mama malah menceramahi Anca?” sahutku tak ingin kalah
“Mama tidak menceramahi kamu nak, mama hanya mengarahkan kamu, supaya kelak kamu dapat dihargai orang lain. Mama gak mau kamu semena-mena sama orang lain, kamu tidak sadarkan? bahwa nada pertanyaanmu tadi merupakan nada protes?”
“Terserah mama lah. Aku capek ma, aku gak mau berdebat sama mama.”
Suasana kembali hening, aku pun segera meninggalkan mama dan pergi keluar boutique. Tak lama kemudian Pak Mamat datang dan membunyikan klakson seperti biasanya.
“Lama banget sih Pak! Aku sudah hampir mati kedinginan tahu!” protesku pada Pak Mamat
“Maaf non Anca, tadi ban mobilnya bocor.” jawab Pak Mamat sekenannya
“Mama, ayo cepetan. Anca udah kedinginan dari tadi.” teriakku pada mama yang masih berada didalam boutique
“Sebentar Anca, 5 menit lagi.”
“Ih, mama. Ini sudah pukul 10 malam, buat apa sih mama masih nungguin boutique ini? lagian kan ada Mbak Lina yang masih bisa ngejagain boutique ini, aku sudah kedinginan Ma.” jawabku pada mama dengan suara tinggi
“Ma, Pak Mamat kok lama sekali sih? Aku kedinginan Ma.” tanyaku pada mama, dengan nada protes
“Mungkin di jalan sedang macet Anca, kamu tidak boleh mengomel seperti itu. Walaupun Pak Mamat bekerja sebagai seorang sopir pribadi kita, tetapi kita harus tetap menghargainya Ca.” jawab mama panjang lebar
“Ma, Anca kan cuma tanya kenapa Pak Mamat lama sekali. Kenapa mama malah menceramahi Anca?” sahutku tak ingin kalah
“Mama tidak menceramahi kamu nak, mama hanya mengarahkan kamu, supaya kelak kamu dapat dihargai orang lain. Mama gak mau kamu semena-mena sama orang lain, kamu tidak sadarkan? bahwa nada pertanyaanmu tadi merupakan nada protes?”
“Terserah mama lah. Aku capek ma, aku gak mau berdebat sama mama.”
Suasana kembali hening, aku pun segera meninggalkan mama dan pergi keluar boutique. Tak lama kemudian Pak Mamat datang dan membunyikan klakson seperti biasanya.
“Lama banget sih Pak! Aku sudah hampir mati kedinginan tahu!” protesku pada Pak Mamat
“Maaf non Anca, tadi ban mobilnya bocor.” jawab Pak Mamat sekenannya
“Mama, ayo cepetan. Anca udah kedinginan dari tadi.” teriakku pada mama yang masih berada didalam boutique
“Sebentar Anca, 5 menit lagi.”
“Ih, mama. Ini sudah pukul 10 malam, buat apa sih mama masih nungguin boutique ini? lagian kan ada Mbak Lina yang masih bisa ngejagain boutique ini, aku sudah kedinginan Ma.” jawabku pada mama dengan suara tinggi
Ini pertama kalinya
aku membentak orang yang sudah mengandungku selama 9 bulan, orang yang sudah
merawatku selama 16 tahun, dan orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku
sendiri kaget, mengapa tadi aku bisa membentak mama seperti itu? Aku sangat
menyesal atas perlakuanku kepada mama hari ini. Tak lama kemudian, mama keluar
dari dalam boutique itu dan segera menuju mobil. Aku hanya bisa mematung ketika
melihat mama melewatiku tanpa bicara sepatah kata pun. Setelah mematung
beberapa saat, aku pun langsung masuk ke dalam mobil, dan sengaja memilih duduk
dibelakang bersama mama. Namun, hampir 10 menit perjalanan, aku dan mama hanya
bisa terdiam dengan 1000 kata. Seakan kami saling mengerti bahwa kami harus
merefleksikan apa yang terjadi hari ini. Setelah berhasil mengumpulkan
keberanian, aku pu mulai membuka pembicaraan dengan mama.
“Ma, Anca minta maaf kalau tadi Anca bentak mama. Anca gak ada maksud bentak mama, tadi Anca sudah sangat kedinginan ma, makanya Anca emosi. Anca minta maaf ma.”
“Ma, Anca minta maaf kalau tadi Anca bentak mama. Anca gak ada maksud bentak mama, tadi Anca sudah sangat kedinginan ma, makanya Anca emosi. Anca minta maaf ma.”
“Sudahlah Anca, yang
lalu biarlah berlalu. Mama tidak akan mempermasalahkan hal itu, lagi pula itu
semua bukan keslahan kamu sepenuhnya, mama juga bersalah. Jadi, mama juga sudah
sepatutnya meminta maaf padamu Nak” jawab mama dengan nadanya yang khas, tanpa
meninggalkan sedikitpun kesan marah
“Mama tidak perlu minta maaf sama Anca, yang salah kan Anca.”
“Anca, meminta maaf bukanlah persoalan siapa yang salah, dan siapa yang benar. Meminta maaf merupakan proses dimana kamu sedang berusaha untuk memulihkan rusaknya hubungan antar manusia. Walaupun hanya tersusun dari 4 huruf, tetapi maaf memiliki makna yang begitu berarti.”
“Anca benar-benar bersyukur memilikimu mama. Walaupun hari ini Anca belum mengerti apa yang mama bicarakan, tapi Anca yakin kelak Anca akan mengerti.”
“Mama harap begitu sayang, tapi jangan hanya dimengerti, belajarlah untuk menerapkannya dalam kehidupanmu kelak nak.” jawab mama sambil tersenyum
“Mama tidak perlu minta maaf sama Anca, yang salah kan Anca.”
“Anca, meminta maaf bukanlah persoalan siapa yang salah, dan siapa yang benar. Meminta maaf merupakan proses dimana kamu sedang berusaha untuk memulihkan rusaknya hubungan antar manusia. Walaupun hanya tersusun dari 4 huruf, tetapi maaf memiliki makna yang begitu berarti.”
“Anca benar-benar bersyukur memilikimu mama. Walaupun hari ini Anca belum mengerti apa yang mama bicarakan, tapi Anca yakin kelak Anca akan mengerti.”
“Mama harap begitu sayang, tapi jangan hanya dimengerti, belajarlah untuk menerapkannya dalam kehidupanmu kelak nak.” jawab mama sambil tersenyum
Aku merasa menjadi
orang yang paling beruntung didunia ini. Aku memiliki keluarga yang benar-benar
mendukungku, dan menyayangiku, aku juga memiliki mama yang luar biasa hebatnya.
Aku memiliki mama yang selalu meyediakan bahunya untuk aku bersandar, aku
memiliki mama yang selalu menyediakan telinganya untuk mendengar setiap keluh
kesahku, aku memiliki mama yang tak pernah berhenti memberiku nasehat, dan aku
memiliki mama yang selalu ada buat aku. Aku sangat senang ketika di pagi hari,
mama adalah orang pertama yang aku lihat untuk membangunkanku agar aku tidak
terlambat kuliah. Ya, bagiku sosok mama adalah sosok yang paling berharga. Mama
rela mengorbankan waktunya hanya demi mengurus aku, kedua saudara ku, dan papaku.
“Anca, kita sudah sampai. Kamu dari tadi ngelamun aja.” kata mama mengagetkanku
“Hehehe, iya ma, Anca lagi ngelamunin mama. Cepet banget ma kita sampainya.”
“Kamu itu bisa aja deh. Makanya jangan ngelamunin mama terus dong” kata mama dengan nada mencibir
Tawa pun meledak seketika. Tak berapa lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan kami gerbang dan menyambut kami dengan antusias. Wanita itu bernama Tuti, dia bekerja sebagai seorang pelayan dalam keluarga kami.
“Eh non Anca sama ibu sudah pulang.” kata Bi Tuti
“Iya bi, ngomong-ngomong yang lainnya pada kemana ya?” tanyaku pada bi Tuti
“Pada di dalam semua non.” jawab Bi Tuti
“Kalau gitu kita masuk duluan ya Bi. Anca sudah kedinginan dari tadi.” kata mama
“Iya bu, silahkan” jawab Bi Tuti mengakhiri percakapan
“Anca, kita sudah sampai. Kamu dari tadi ngelamun aja.” kata mama mengagetkanku
“Hehehe, iya ma, Anca lagi ngelamunin mama. Cepet banget ma kita sampainya.”
“Kamu itu bisa aja deh. Makanya jangan ngelamunin mama terus dong” kata mama dengan nada mencibir
Tawa pun meledak seketika. Tak berapa lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan kami gerbang dan menyambut kami dengan antusias. Wanita itu bernama Tuti, dia bekerja sebagai seorang pelayan dalam keluarga kami.
“Eh non Anca sama ibu sudah pulang.” kata Bi Tuti
“Iya bi, ngomong-ngomong yang lainnya pada kemana ya?” tanyaku pada bi Tuti
“Pada di dalam semua non.” jawab Bi Tuti
“Kalau gitu kita masuk duluan ya Bi. Anca sudah kedinginan dari tadi.” kata mama
“Iya bu, silahkan” jawab Bi Tuti mengakhiri percakapan
SURPRISE…. Teriak Kak
Letha, Dek Yohan, dan Papa dari dalam ketika kami membuka pintu rumah.
“Papa, aku kangen banget sama papa. Papa kenapa gak bilang-bilang dulu sih sama aku dan mama. Kan aku bisa sekalian jemput Papa di bandara” kataku sambil memeluk Papa
“Namanya juga surprise, kalau papa bilang nanti gak surprise dong” jawab Kak Letha meledekku
“Papa bikin mama kaget aja deh. Papa semenjak di Jepang tambah ganteng ya, mama jadi makin cinta sama papa” kata mama sambil memeluk papa
“Bianca, kamu jangan disitu dong. Ganggu papa mama yang lagi mesra aja, hahaha.” Yohan ikut mencibirku
“Ih biarin aja, kamu iri kan gak dipeluk sama papa dan mama kaya aku. Hahahaha” jawabku dengan nada mengejek
“Sudah- sudah jangan saling mengejek. Sebenarnya papa meluk Bianca juga terpaksa kok. Jadi kalian jangan iri sama Bianca” jawab papa dengan nada mengejek
Tawa pun meledak diantara kami. Kami pun berpelukan dengan erat antara satu dengan yang lainnya, pelukan yang penuh dengan kehangatan sekaligus pelukan yang penuh dengan cinta. Walaupun papa blasteran Prancis, tetapi papa juga mengerti Bahasa Indonesia, karna mamanya papa juga Orang Indonesia. Hari ini sungguh menyenangkan buatku. Hari yang penuh dengan kebahagiaan dan senyum, hari yang penuh dengan kejutan, dan hari yang penuh dengan canda dan tawa.
“Papa, aku kangen banget sama papa. Papa kenapa gak bilang-bilang dulu sih sama aku dan mama. Kan aku bisa sekalian jemput Papa di bandara” kataku sambil memeluk Papa
“Namanya juga surprise, kalau papa bilang nanti gak surprise dong” jawab Kak Letha meledekku
“Papa bikin mama kaget aja deh. Papa semenjak di Jepang tambah ganteng ya, mama jadi makin cinta sama papa” kata mama sambil memeluk papa
“Bianca, kamu jangan disitu dong. Ganggu papa mama yang lagi mesra aja, hahaha.” Yohan ikut mencibirku
“Ih biarin aja, kamu iri kan gak dipeluk sama papa dan mama kaya aku. Hahahaha” jawabku dengan nada mengejek
“Sudah- sudah jangan saling mengejek. Sebenarnya papa meluk Bianca juga terpaksa kok. Jadi kalian jangan iri sama Bianca” jawab papa dengan nada mengejek
Tawa pun meledak diantara kami. Kami pun berpelukan dengan erat antara satu dengan yang lainnya, pelukan yang penuh dengan kehangatan sekaligus pelukan yang penuh dengan cinta. Walaupun papa blasteran Prancis, tetapi papa juga mengerti Bahasa Indonesia, karna mamanya papa juga Orang Indonesia. Hari ini sungguh menyenangkan buatku. Hari yang penuh dengan kebahagiaan dan senyum, hari yang penuh dengan kejutan, dan hari yang penuh dengan canda dan tawa.
Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepatnya. Seminggu lagi mama berulang tahun yang ke-47, aku dan keluarga juga sudah menyiapkan kejutan untuk mama. Bagi kami semua, mama adalah sosok yang penuh dengan kasih dan sayang, dan bagi kami, mama adalah sosok yang bisa merubah setiap kesedihan menjadi kebahagiaan tersendiri. Mama punya cara pandang tersendiri dalam menghadapi setiap masalah, walaupun perasaannya sedang kacau, tapi mama bisa meyembunyikan perasaan tersebut dengan senyum yang ia miliki. Buat aku, cinta dan kasih sayang mama tidak dapat ku diskripsikan. Yang jelas aku sangat menyayangi mama. Tok.. tok.. tok.. Suara ketukan pintu itu mengagetkanku, aku pun membukaka kan pintu kamarku.
“Eh mama, ada apa ma? Mama kalau mau istirahat, tidur di kamar Anca aja.”
“Enggak ada apa-apa kok sayang, mama cuma mau tanya, nanti kamu mau ikut mama ke boutique atau tidak?” tanya mama
“Jam berapa ma? Anca nanti mau nemenin Kak Letha ke salon ma.” jawabku berbohong
“Nanti mama mau ke boutique jam 9, kalau kamu gak bisa gak apa-apa kok. Kamu tidak kuliah?.”
“Kalau jam 9 Anca bisa ma, Anca kuliah sore ma. Nanti Anca nemenin Kak Letha jam 2 kok ma.”
“Okay kalau gitu, nanti kamu siap-siap saja. Nanti yang bawa mobilnya mama, soalnya Pak Mamat sedang sakit dan dia butuh istirahat.”
“Gak usah ma, yang bawa mobilnya Anca aja. Kasian mama, nanti mama kecapekan. Kan mama nanti harus nungguin boutique sampai malam.”
“Iya deh, mama sekarang nurut kamu saja Ca.”
“Hahaha, mama ada-ada saja, masa orang tua nurut sama anaknya. Yang ada anak nurut sama orang tuanya.”
Begitulah keluarga
kami, penuh dengan senyum. Aku bahkan tidak bisa membayangkan, atau lebih
tepatnya tidak ingin membayangkan jika suatu saat nanti mama harus pergi meniggalkan
kita. Mungkin aku masih butuh waktu untuk memahami akan hal tersebut.
Sebenarnya nanti aku pergi sama Kak Letha bukan untuk menemani Kak Letha ke
salon, tapi menemani Kak Letha membeli kado dan beberapa pernak-pernik
untuk mendekorasi acara ulang tahun mama. Detik demi detik pun berlalu begitu
cepat, kini tiba saatnya untukku dan mama pergi ke boutique kami. Jaraknya
lumayan jauh sih, karna kami tinggal didaerah Pererenan, sedangkan boutique
kami berada di daerah Kuta. Sepanjang jalan mama tak henti-hentinya menasehati
aku, dan memberi aku arahan untuk mensyukuri hidup. Akhirnya kami sampai juga
di boutique milik mama, boutique yang memiliki nama CaLeYo, nama yang merupakan
singkatan dari AnCA, LEtha, dan YOhan ini menjadi pusat perbelanjaan konveksi
yang cukup terkenal di Bali.
“Ma, Anca capek, Anca mau istirahat dulu ya ma.”
“Iya sayang, kamu pakai ruangan atas saja ya.”
Boutique ini memiliki ruangan khusus yang digunakan untuk istirahat bersama, ruangannya ada 3. 2 dilantai dasar, dan 1 dilantai atas.
“Oke ma. Nanti kalau mama perlu bantuan, mama datang aja ke kamar Anca.”
“Iya Anca sayang.”
Akupun pergi meninggalkan mama, dan segera menuju ke kamar atas. Aku yang sedari tadi bilang capek dan ingin istirahat, dalam hitungan menit aku langsung tertidur. Detik berganti menit, menit berganti jam, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 2 siang, aku pun segera pergi menemani Kak Letha untuk membeli bahan dekorasi.
“Ma, Anca capek, Anca mau istirahat dulu ya ma.”
“Iya sayang, kamu pakai ruangan atas saja ya.”
Boutique ini memiliki ruangan khusus yang digunakan untuk istirahat bersama, ruangannya ada 3. 2 dilantai dasar, dan 1 dilantai atas.
“Oke ma. Nanti kalau mama perlu bantuan, mama datang aja ke kamar Anca.”
“Iya Anca sayang.”
Akupun pergi meninggalkan mama, dan segera menuju ke kamar atas. Aku yang sedari tadi bilang capek dan ingin istirahat, dalam hitungan menit aku langsung tertidur. Detik berganti menit, menit berganti jam, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 2 siang, aku pun segera pergi menemani Kak Letha untuk membeli bahan dekorasi.
Tak terasa waktu
bergulir begiru cepat. Aku hampir saja lupa bahwa hari ini adalah hari ulang
tahun mama. Kami sekeluarga sudah sepakat membuat surat atau puisi untuk mama.
Kebetulan juga hari ini bertepatan dengan hari ibu, jadi kami merayakan 2
perayaan sekaligus. Papa bekerja sama dengan karyawan di boutique mama, agar
satu-persatu dari mereka meminta ijin dengan alasan sakit, ada keperluan, dan
lain sebagainya agar mama sibuk menjaga boutique sendiri. Kemudian Kak Letha
bertugas untuk mendekorasi rumah kami sebagai tempat perayaan ulang tahun mama,
Yohan bertugas menjadi pemain music, dan aku bertugas membeli kado untuk mama.
Mama tidak tahu-menahu tentang acara ini, jadi ketika mama pulang nanti, ia
akan terkejut melihat surprise ini. Dering teleponku berbunyi, aku segera
mengangkat telponku
“Halo ma.”
“Halo Anca, kamu sibuk gak sayang?.”
“Ehm, enggak kok ma, mama butuh bantuan apa?,”
“Kamu tolong jemput mama ya sayang, mama mau tutup boutique, karyawan mama pada gak bisa masuk semua hari ini, mereka sedang ada keperluan dan banyak yang sakit. Mama sudah kewalahan, hari ini banyak sekali pelanggan yang datang.”
“Ok ma, mama tunggu saja disitu ya. See u ma, muach.”
“See u too, hati-hati di jalan ya nak.”
Setelah menutup telpon, aku segera mencari papa untuk meminta ijin menjemput mama, sepanjang perjalanan tidak ada satupun dari kami yang membahas tentang ulang tahun mama, sepertinya mama juga lupa akan ulang tahunnya. Sesampainya di rumah, mama langsung masuk kedalam rumah.
“Anca, mama duluan ya.”
“Iya ma.”
Ketika pintu sudah mulai terbuka, Yohan pun memulai aksinya bermain music
HAPPY BIRTHDAY MOMMA.. HAPPY BIRTHDAY MOMMA.. HAPPY BIRTHDAY MOMMA..
Mama yang kaget dengan kejutan ini pun langsung menangis, ini pertama kalinya aku melihat mama menangis, dan tangisan ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangisan yang penuh dengan kebahagian.
“Ma, suratnya dibaca ya”
“Halo ma.”
“Halo Anca, kamu sibuk gak sayang?.”
“Ehm, enggak kok ma, mama butuh bantuan apa?,”
“Kamu tolong jemput mama ya sayang, mama mau tutup boutique, karyawan mama pada gak bisa masuk semua hari ini, mereka sedang ada keperluan dan banyak yang sakit. Mama sudah kewalahan, hari ini banyak sekali pelanggan yang datang.”
“Ok ma, mama tunggu saja disitu ya. See u ma, muach.”
“See u too, hati-hati di jalan ya nak.”
Setelah menutup telpon, aku segera mencari papa untuk meminta ijin menjemput mama, sepanjang perjalanan tidak ada satupun dari kami yang membahas tentang ulang tahun mama, sepertinya mama juga lupa akan ulang tahunnya. Sesampainya di rumah, mama langsung masuk kedalam rumah.
“Anca, mama duluan ya.”
“Iya ma.”
Ketika pintu sudah mulai terbuka, Yohan pun memulai aksinya bermain music
HAPPY BIRTHDAY MOMMA.. HAPPY BIRTHDAY MOMMA.. HAPPY BIRTHDAY MOMMA..
Mama yang kaget dengan kejutan ini pun langsung menangis, ini pertama kalinya aku melihat mama menangis, dan tangisan ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangisan yang penuh dengan kebahagian.
“Ma, suratnya dibaca ya”
Dari : Ni Putu Arletha
C.
“Terimakasih buat segala hal yang mama berikan buat aku. Buat setiap detik yang mama korbankan hanya untukku, mama aku sangat menyayangi mama. Terimakasih telah menjadi panutan yang baik bagiku, terimakasih untuk setiap nasehat yang mama berikan. Aku akan selalu menyayangi mama.”
“Terimakasih buat segala hal yang mama berikan buat aku. Buat setiap detik yang mama korbankan hanya untukku, mama aku sangat menyayangi mama. Terimakasih telah menjadi panutan yang baik bagiku, terimakasih untuk setiap nasehat yang mama berikan. Aku akan selalu menyayangi mama.”
Dari : Ni Kadek Bianca
Dominique C.
“Ma, kasihmu mengalahkan beningnya embun. Cintamu mengalahkan hangatnya sinar mentari. Engkau adalah malaikat yang tak bersayap, namun engkau memiliki kekuatan hati yang super. Pengorbanan yang engkau berikan sangatlah tulus dan tiada taranya. Anca sayang mama.”
“Ma, kasihmu mengalahkan beningnya embun. Cintamu mengalahkan hangatnya sinar mentari. Engkau adalah malaikat yang tak bersayap, namun engkau memiliki kekuatan hati yang super. Pengorbanan yang engkau berikan sangatlah tulus dan tiada taranya. Anca sayang mama.”
Dari : I Komang Yohan
Castillo C.
“Kaulah cinta kasihku. Terima kasihku takkan pernah berhenti, kau bagaikan matahari yang selalu bersinar, menyinari hidupku dengan kehangatanmu. Akan ku coba merangkai seluruh waktuku yang tersisa, untuk memberi hari-hari bahagia untukmu mama tersayang. Aku menyayangi mama sampai kapan pun.”
“Kaulah cinta kasihku. Terima kasihku takkan pernah berhenti, kau bagaikan matahari yang selalu bersinar, menyinari hidupku dengan kehangatanmu. Akan ku coba merangkai seluruh waktuku yang tersisa, untuk memberi hari-hari bahagia untukmu mama tersayang. Aku menyayangi mama sampai kapan pun.”
Dari : John Marco C.
“Terimaksih telah menjadi istri yang baik bagiku. Kau hadir memberi cinta, membawa bahagia, dan kau yang selalu mengajarkanku kesabaran. Terimakasih telah menjadi ibu yang baik bagi buah hati kita, terimakasih buat kesetianmu dan terimakasih untuk setiap kepercayaan yang engkau berikan bagiku. Aku sangat mencintaimu ma, dan aku akan selalu berusaha ada disetiap kamu membutuhkan aku, karna setiap detik yang aku punya sangat berharga buat kamu. Love you ma.”
“Terimaksih telah menjadi istri yang baik bagiku. Kau hadir memberi cinta, membawa bahagia, dan kau yang selalu mengajarkanku kesabaran. Terimakasih telah menjadi ibu yang baik bagi buah hati kita, terimakasih buat kesetianmu dan terimakasih untuk setiap kepercayaan yang engkau berikan bagiku. Aku sangat mencintaimu ma, dan aku akan selalu berusaha ada disetiap kamu membutuhkan aku, karna setiap detik yang aku punya sangat berharga buat kamu. Love you ma.”
Dari : Keluarga Besar
Cassanova
“HAPPY BIRTHDAY MOMMA, semoga panjang umur, sehat selalu, sukses dalam karier, dan rumah tangga, Tuhan Memberkati.”
“HAPPY BIRTHDAY MOMMA, semoga panjang umur, sehat selalu, sukses dalam karier, dan rumah tangga, Tuhan Memberkati.”
Begitulah isi surat
dari kami untuk mama. Mama pun menangis terharu sambil membaca surat tersebut.
Mama akan tetap menjadi sosok yang berharga buat kami semua, karna kami mencintai mama, dan mama juga mencintai kami. Kasih mama yang sebening embun dan cinta mama yang mengalahkan hangatnya sinar mentari akan selalu tersimpan dalam memori ku. Terimakasih buat pelajaran berharga yang mama berikan untukku, dan terimakasih buat nasehat yang mama ajarkan untukku. Selamat Hari Mama.
Mama akan tetap menjadi sosok yang berharga buat kami semua, karna kami mencintai mama, dan mama juga mencintai kami. Kasih mama yang sebening embun dan cinta mama yang mengalahkan hangatnya sinar mentari akan selalu tersimpan dalam memori ku. Terimakasih buat pelajaran berharga yang mama berikan untukku, dan terimakasih buat nasehat yang mama ajarkan untukku. Selamat Hari Mama.
No comments:
Post a Comment