Wednesday, April 1, 2015

Two Weeks With Love

Namaku Angelita Abri Berliani, aku biasa dipanggil Angel. Sejak tahun 2012 aku di Jogja tinggal bersama opa angkat ku dan beberapa teman-teman lainyang di sponsorin Opa mereka adalah Isa, Mizhel, Julio, Rini, Kiki, Indra, dan Putu, sedangkan Opa ia berasal dari Negara yang terkenal memiliki Menara Eiffel atau biasa disebut Prancis, dia bernama Opa Patrick. Aku mengenal dia sudah 8 tahun, awalnya waktu aku kelas 2 SD. Berhubung aku sudah tinggal sama Opa dalam kurun waktu yang cukup lama, jadi aku fasih dengan dua Bahasa yaitu Inggris dan Prancis. Papa, mama, dan adikku tetap tinggal di Bali, sedangkan kakak ku kuliah di Universitas Atma Jaya Jogjakarta. Well, sekarang aku sudah kelas 2 SMP dan sekolah disalah satu sekolah Negeri di Kalasan. Sejak kecil aku gak dibolehin pacaran sama orangtua ku, alasannya simple “They worried about me, because they think I’m too young and it will be too dangerous” (mereka khawatir tentang aku, karna mereka piker aku terlalu muda dan itu terlalu berbahaya). Dan pada akhirnya aku memiliki predikat jomblo 14 tahun, tapi aku seneng juga kok karna mereka ngelarang aku untuk kebaikan aku sendiri. Sedangkan Opa Patrick, dia gak ngebolehin aku megang HP sebelum aku SMA, alasannya lagi-lagi terlalu simple “He afraid that I’ll not keep focus on what Im doing” (dia takut aku gak focus dengan apa yang aku lakukan). Memang sih kalau dipikir mereka terlalu overprotective  (terlalu melindungi) tapi aku ngerasa kalau ini cara mereka nunjukin kasih sayangnya ke aku.
“Malam Minggu lagi, malam minggu lagi. Kenapa sih yang jadi urband legend cuma malam minggu doang? Kenapa gak malam rabu, malam senin, atau malam apa gitu kek” sungutku dalam hati.
Well, malam minggu buat aku adalah malam terjelek. Malam dimana teman-temanku pada sibuk menceritakan tentang kisah romantis dengan pacarnya dan seperti biasa aku akan menjadi pendengar setia, malam dimana tempat-tempat seperti mall, taman, atau café dipenuhi dengan dua mahluk yang berlawanan jenis yang sedang merajut kisah asmara mereka, malam dimana para jomblo seperti aku ngerasa planet ini kayaknya terlalu sepi untuk dihuni, dan sialnya lagi malam dimana aku akan dibully dengan seribu pertanyaan seperti ini
           “Angel, loe sampai kapan mau ngejomblo kaya gini terus?” dan seperti biasa, aku hanya bisa menjawab pertanyaan itu dengan nada ketus
           “Gue happy happy aja kok jadi single kaya gini. Gue lebih punya waktu banyak untuk ngeluangin waktu buat hidup gue, dan satu lagi. Gue bukan JOMBLO tapi gue SINGLE, beda ya!”
            Hidup dengan bule selama 8 tahun membuatku menjadi sosok ‘bule hunting’ entahlah, menurutku jika memiliki pasangan dari mancanegara atau  foreign bisa memperbaiki keturunan. Well, it sounds really weird, but infact (kedengaran aneh, tapi kentaannya) mereka yang merupakan anak-anak blasteran memiliki ciri-ciri fisik yang unik dan memiliki nilai plus tersendiri, khusnya buat kita orang Indonesia. Okay, wanita Indonesia juga gak kalah cantik kok sama bule-bule yang dari Eropa atau Amerika, karna setiap orang memiliki keunikan tersendiri dan keunikan itu sifatnya relative, tergantung yang melihat siapa. Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenal aplikasi chatting yang bisa menghubungkan ku dengan dunia International dan sejak aku mulai aktif menjadi users aku pun mulai memiliki banyak teman yang berbeda suku, bangsa, ataupun ras. Bagiku hidup di zaman yang modern dan maju kaya gini kita harus pintar-pintar dengan teknologi yang ada, aku sendiri memanfaatkan skype sebagai penghubung voice call face to face antara  aku dan teman-teman ku yang berada di luar negeri sana.

Malam Senin yang menyebalkan.Seandainya aku punya mesin waktu pasti aku akan menghentikan menit-menit tertentu dalam hidupku, berharap agar setiap momen-momen indah tidak hanya menjadi menjadi kenangan yang tersimpan rapi di dalam memori, tetapi juga dapat diulang kembali dalam kenyataan yang sama dan waktu yang sama pula. Oh Minggu, tidakkah kau punya sedikit saja tambahan menit agar aku bisa memiliki lebih banyak waktu untuk tertidur lebih lama, agar aku bisa memiliki lebih banyak quality time bersama orang-orang yang aku sayangi. Aku masih memiliki cukup waktu untuk menikmati Hari Minggu ini, aku mulai memandang langit sore di Hari Minggu yang berwarna keoranyean menggambarkan betapa agungnya karya Tuhan.

***
Jam makan malam pun tiba kami sekeluarga berkumpul bersama di ruang makan. Kami bercanda, tertawa, sedih dan menangis bersama dalam setiap momen yang kami lalui. Kami disini seperti keluarga, walau kami berasal dari keluarga dan latar belakang yang berbeda. Hidangan makan malam telah tersedia diatas meja yang berhiaskan karpet penutup bermotif bunga agar memberikan kesan lebih harmonis. Kami memulai makan malam ini dengan doa pembuka sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang telah mengaruniakan berkat kepada kami, harmonis dan damai itulah kesan yang dapat aku ambil dari setiap kebersamaan makan dirumahku. Tak berapa lama kemudian Opa Patrick mengatakan sesuatu yang mengejutkan kami semua. 
              “For everybody, two days later my youngest child will come to Indonesia. He wants to visit us and to know the culture of Indonesia. We will pick him up at 6.30 pm in Airport, who want to pick him with me?” (buat semuanya, 2 hari lagi anakku yang paling kecil akan datang ke Indonesia. Dia akan mengunjungi kita dan ingin mengetahui tentang budaya Indonesia. Kita kan menjemputnya di bandara jam setengah tujuh malam)
“Deg, seakan irama jantungku berhenti berdetak. Dunia berhenti berputar. Oh God, aku gak mimpi kan? Ini nyata kan?” ucapku dalam hati
Aku adalah orang pertama yang angkat tangan untuk menjemput anaknya Opa, kemudian disusul oleh Mizhel, Isa, Rini, dan Kiki
      “What’s his name?” tanyaku pada Opa (siapa namanya)
     “His name is Eric” jawab Opa (namanya Eric)
     “How old is he?”
tanya Mizhel dengan antusia (dia umur berapa?)
    “18 years old” jawab Opa (18 tahun)
Suasana makan malam yang tadinya lebih mirip disebut pasar sekarang dalam hitungan sepersekian detik berubah menjadi suasana yang lebih tepatnya seperti sebuah planet tak berpenghuni. Semua masih terpaku dengan pernyataan Opa tadi.
    “Why everybody so quite now?” (kenapa semuanya jadi diam?) tanya Opa yang keheranan melihat tingkah laku kami semua yang mendadak menjadi beku layaknya es batu. Kami yang mendengar pertanyaan Opa hanya bisa menatap satu sama lain, seakan memberi kode rahasia. S Setelah beberapa lama kami mengobrol dan menikmati hidangan penutup akhirnya makan malam pun usai. Detik berdenting terus menerus tiada henti, tak terasa Hari Senin sudah didepan mata. Hari yang merupakan awalan dalam satu minggu yang berhasil meraih angka 90% dengan predikat hari yang dibenci oleh manusia manapun. Aku hanya berharap hari ini bisa tidur dengan nyenyak tanpa membayangkan bagaimana wajah anak Opa yang bernama Eric.

                                                                        ***
          “Pagi yang cerah” ujarku seraya membuka kaca jendela kamarku.
          “Morning Angel” sapa temanku yang bernama Mizhel.
          “Morning juga”
          “Tumben Ngel jam segini sudah bangun”
          “Iya, hari ini jadwalku piket. Aku mandi dulu ya Zhel” jawabku mengakhiri percakapan
          “Oke deh, cepet ya jangan lama-lama”
Setelah selesai berbincang-bincabg dengan Mizhel, akupun bergegas mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi. Kulirik jam tanganku 05.35.
“Masih ada 25 menit lagi untuk siap-siap” ujarku dalam hati.
06.00
          “Aku berangkat duluan ya semuanya” teriakku dari garasi
          “Hati-hati Ngel” jawab Indra
          “Okee, thank you”
06.25
Aku sudah sampai di sekolah, dan ketika aku ingin masuk kedalam kelas Gita dan Sasa memanggilku, percakapan antara kami pun dimulai aku menceritakan akan kedatangan Eric hari ini . Akhirnya tak terasa bel pertanda kegiatan belajar mengajar pun dimulai.
Tak terasa waktu pun bergulir begitu cepat, pelajaran Bahasa Jawa pun usai. Aku, Gita, dan Sasa pun bergegas ke kantin. Sesampainya di kantin kami pun memesan mie ayam dan es teh 3 porsi. Lima belas menit sudah kami berada di kantin ini. Canda, dan tawa yang menemani kami ber-3. Ya, itulah persahabatan terkadang terlihat konyol tetapi sangatlah berkesan. Jam istirahat pun usai, aku dan teman-teman lainnya memasuki kelas untuk melanjutkan pelajaran.
          “Ayo ke kelas sekarang! Ntar kita bisa telat lagi.” ajakku pada Gita dan Sasa yang masih asik di kantin sambil bergosip ria
          “Eh iya, sampai lupa kalau bel sudah bunyi. Ayo ayo, aku gak mau telat sekarang kan pelajarannya  Bu Rini” jawab Gita
          “O iya, aku lupa bawa tugasnya. Duh gimana nih?” sahut Sasa
          “Please deh Sa, gak panik gitu kenapa sih? Tugasnya dikumpul minggu depan” jawabku santai
          “Hahahaha, aku lupa. Oke deh, thanks ya” jawab Sasa
Setelah kurang lebih 7 jam beraktivitas di sekolah akhirnya aku mendengar suara bel
Teet… teet… teet…
pertanda kegiatan belajar mengajar pun telah usai. Aku segera berkemas dan pulang.
          “Gita, Sasa aku duluan ya. Bye, see u tomorrow yea” kataku pada Gita dan Sasa
          “Cepet banget Ngel, mbok kamu diam disini bentar aja” jawab Gita
          “Hahaha, iya nih Angel tumben banget pengen pulang cepet-cepet” Sasa ikut menimpali
          “Aku ada urusan cuy, biasa orang sibuk” jawabku santai. Tawa diantara kami pun pecah seketika
          “Oke Ngel, hati-hati ya” jawab mereka
                                                                       
***
Sesampainya dirumah, aku hanya berdiam diri di kamar dengan ditemani oleh boneka teddy bearku. Oh God, kenapa hari Selasa begitu lama? Dapatkah seseorang membuatkanku mesin waktu untuk mempercepat lajunya detik ini? Entah mengapa semenjak Opa memperlihatkan fotonya Eric aku merasakan perasaan yang aneh, perasaan yang aku rasa belum memiliki nama pasti untuk sekarang ini. Seperti biasanya, di rumah aku disibukkan dengan rutinitas setiap harinya, mulai dari bersih-bersih, masak, belajar dan istirahat.
Akhirnya semuanya selesai, kulirik benda yang melingkar di tanganku dengan label QnQ masih menunjukkan pukul 9.00 pm, kutarik nafas dan kuhembuskan secara perlahan begitu terus kulakukan untuk menghilangi rasa aneh ini. Tiga jam lagi hari akan berganti menjadi Hari Selasa, 21,5 jam lagi aku akan melihat sosok Eric secara nyata bukan hanya melalui imajinasi ataupun foto. Mataku sudah tidak bisa diajak untuk berkompromi, aku bergegas untuk beristirahat sambil menunggu datangnya hari esok.
Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit. Lima menit yang bermanfaat, aku hanya bisa menutup mata ini hanya dalam waktu lima menit, ah! Sekarang giliran otakku yang tak bisa berhenti untuk mengingat tentang sosok Eric. Ada apa ini? Mengapa aku memikirkan Eric terus menerus seperti ini?Apa yang salah denganku? Aku harus tidur! besok aku harus sekolah dan aku tidak mau terlambat sedetik pun hanya karna aku susah tidur memikirkan perasaan yang mengganjal ini. Oke, aku harus berhitung agar mata ini tersugesti dan mau terpejam. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, de…
Aku mulai terbawa kealam mimpi.

                                                            ***
Penggalan lagu Give Me One More Time sukses membangunku dari tidur nyenyakku. Kulirik
alarm yang berada tepat disampingku. Aku bagaikan bayi yang baru pertama kali melihat dunia, kuingat dengan jelas hari ini adalah Hari Selasa, 06 September 2012 hari yang aku tunggu, hari dimana aku memulai sebuah kisah cinta klasik dengan pertemuan yang singkat. Kudengar suara burung berkicauan diudara beradu dengan suara ayam yang berkokok, matahari yang sudah menampakkan diri sejak tadi seakan tersenyum kearahku.
“Terimakasih Tuhan buat pagi yang cerah ini” kataku sambil membuka jendela kamar.
Kulirik jam tanganku masih menunjukkan pukul 5.15 am. Aku pun memanaskan air untuk meminum susu dan kemudian membuat roti untuk sarapan.
06.30
Aku berangkat ke sekolah dengan penuh keceriaan dan semangat. Ya, aku masih tidak sabar untuk menunggu kedatangan Eric, 12 jam lagi pikirku

                                                                                    ***                             
Perjalanan ke sekolah memakan waktu sekitar 15 menit. Akhirnya aku sampai disekolah aku tak sabar ingin menceritakan semuanya pada Gita dan Sasa. Aku memasuki kelas dengan wajah yang sangat ceria dan menyapa seluruh penghuni kelas VIII B.
          “Morning semuanya” sapaku
          “Morning Ngel” jawab teman-temanku yang berada di kelas
          “Ngel, kamu kesamber setan apa? Tumben ceria banget kaya gini, biasanya juga kalau masuk kelas mukanya ketekuk-tekuk gitu” tanya Gita
          “Iya aku kan..”
          “Apa jangan-jangan obat kamu habis Ngel? Hahahaha” belum selesai aku menjawab Sasa langsung menimpali
          “Aduh! Kalian ini lihat temen ceria dikit itu seharusnya juga ikut ceria, malah aku di bully terus. Kayaknya emang nasib dibully ya!” jawabku
          “Yee, gitu aja ngambek. Kita seneng kok, emang kamu kenapa sih? Tumebn banget pagi-pagi gini mukanya secerah sinar matahri?” tanya Gita
          “Aku lagi seneng aja, anaknya Opa mau datang Git. Ntar malem jam setengah tujuh aku bakal jemput dia di bandara, dan satu lagi kamu tahu gak? Kalau anaknya Opa itu cakep banget. Kemarin malem aku sampai gak bisa tidur cuma nungguiin dia dating” jelasku panjang
          “Wahh, asik tu Ngel. Umur berapa anaknya? Kalau masih muda lumayan loh dijadiin gebetan” jawab Sasa
          “Hahaha, ngarang kamu! Mana mungkin, anak Opa cuy! Gak punya nyali aku! Dia umur 18 tahun” jawabku diiringi tawa teman-temanku.
Setelah percakapan itu kamipun memasuki kelas, pelajaran pun dimulai seperti biasanya. Aku benar-benar kehilangan control, pikiranku melayang-layang mengingat sosok Eric. Oh God tolonglah aku! Mengapa perasaan ini terasa begitu aneh buat aku? Setelah 2 jam di kelas akhirnya kami boleh beristirahat 15 menit.
          “Kantin yuk” ajakku pada Gita dan Sasa
          “Hmm boleh” jawab Gita yang kemudian disusul Sasa
          “Pesen apa ya?” tanyaku bingung
          “Bakso aja deh Ngel, lagian kemarin mie ayam” jawab Sasa
          “Oke deh, sama es jeruk aja kali ya? Kan kemarin es teh” kataku
          “Ide yang bagus. Pesen 3 ya Ngel” kata Gita
Aku pun berjalan menuju tempat Pak Min, bapak kantin penjual bakso. Kemudian aku memesan 3 bakso dan 3 es jeruk. Setelah menunggu sekitar 5 menit pesanan pun datang. Kami menyantap hidangan ini sambil sedikit membicarakan tentang Eric.
          “Eric mulu ah, ganti topic yuk” ujar Gita
          “Haha tentang apa ya?” tanya Sasa
Percakapan pun dimulai, begitulah kami jika berkumpul bersama. Kami akan membahas hal-hal dengan sudut pandang berbeda-beda, hal yang terkesan aneh dan konyol justru akan menimbulkan humor yang lebih tinggi. Kami pun akhirnya selesai makan dan bergegas menuju ke kelas. Pelajaran seperti biasanya, waktu terus bergulir dengan sangat cepat. Bel pulang pun dibunyikan. 14.00 kulihat jam tanganku
“Masih 4,5 jam lagi” ucapku dalam hati
Aku pun bersiap-siap untuk pulang.
          “Gita, Sasa aku pulang duluan ya, bye” kataku pada Gita dan Sasa
          “Halah, kamu cepet-cepet karna gak sabar jemput Eric kan?” jawab Gita
          “Enggak kok,  cuma lagi ada urusannya aja” jawabku
          “Gak usah bohong deh, keliatan dari matamu tau!” Sasa ikut menimpali
Akhirnya aku pun pulang dan sampai di rumah. Detik demi detik berlalu akhirnya jam tangan menunjukkan pukul 6.00 pm, adzan maghrib pun berkumandang 30 menit lagi pikirku. Akhirnya aku memutuskan untuk bersiap-seiap ke bandara, rasa ingin tahuku akan Eric begitu besar.
***
Menit yang kutunggu akhirnya datang juga, aku dan teman-temanku menjemput Eric di bandara. 15 menit menunggu akhirnya sosok itu muncul juga, Opa memberikan tanda agar kami menghampiri Eric
            “Go there and say hello with him” kata Opa kepada kami (pergi kesana dan sapa lah   dia)
            “Okay Opa”
Kami berlima menghampiri Eric dan say hello dengannya. Mimpi jadi kenyataannya dan ternyata imajinasiku selama ini benar. Eric adalah sosok yang rupawan, ramah, dan baik hati. Awalnya aku mengira ia akan tinggal bersama-sama dengan kami, tetapi ternyata ia akan tinggal di salah satu hotel di Jogja, namanya Grand Quality Hotel, setelah menjemput Eric kami pun bergegas menuju ke GQ Hotel. Eric mengajak kami untuk makan malam bersama di coffee shop yang tersedia di GQ Hotel. Hari-hariku terasa begitu penuh warna semejak kehadiran Eric, walaupun ia di Indonesia hanya 3 minggu. Aku berharap waktu dapat berhenti seketika, sosok Eric yang begitu easy going (mudah bergaul) membuat siapa saja yang berada didekatnya akan merasa nyaman. 4 hari bersamanya yang penuh dengan makna, semakin hari aku pun semakin dekat dengannya, terkadang aku beralibi ke hotel untuk berenang, padahal aku menghampiri Eric. Ia juga tidak merasa terganggu ataupun keberatan dengan kedatanganku. Hari Minggu, Eric mengajakku untuk makan malam di sebuah restoran bernama XO, aku tidak bisa menyanggupi ajakannya karna suatu hal.  Akhirnya ia mengajakku makan malam Hari Selasa jam 7 malam, akhirnya mimpi jadi kenyataan, sejak kapan aku bisa berkencan dengan Eric dalam dunia nyata? Ini bukan mimpi, ini nyata dan aku sangat senang mungkin beribu kupu-kupu sedang mengitariku. Apakah kalian tahu apa yang aku rasakan untuk setiap detik saat aku bersamanya? Aku begitu menyayanginya, aku tahu perasaan ini seharusnya tidak boleh singgah di hatiku tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa! Kita berbeda, dan perbedaan itu terlalu kontras, mungkinkah aku bersamnya? Kita berbeda, berbeda ras dan budaya. Oh God tolonglah aku, aku harus menghentikan perasaan ini.
Hari ini adalah Hari Selasa tepat 7 hari aku bersamanya, terakadang Eric datang ke rumahku hanya untuk sekedar menanyakan kabar dan say hello. Aku rasa ia memiliki perasaan yang sama denganku. Tibalah saatnya aku pergi ke hotel menjemputnya menggunakan taxi, setibanya di hotel aku segera menuju ke kamar no 610 aku mengetuk pintunya dan akhirnya ia membukakan. Ia menyambutku begitu hangat
            “Hey darling, you are so beatifull. Wait a minute, I’ll change my cloth” kata Eric (Hey sayang, kamu sungguh cantik. Tunggu aku sebentar, aku akan berganti pakaian)
            “Ok” jawabku dengan seulas senyum yang mengembang
Eric segera meninggalkanku dan menuju kamar mandi. Aku dan dia akhirnya pergi meninggalkan hotel dan menuju XO. Aku hanya bisa terdiam sepanjang perjalanan, tak ada satu patah katapun yang keluar diantara kita. Hingga akhirnya kami tiba di XO, kamipun masuk. Dan tahukah kamu? Eric telah mempersiapkan segalanya buat aku, dengan diiringi lagu dari Ed Sheeran yang berjudul Thinking Out Loud ia pun menyatakan perasaannya padaku
            "vous savez Angel, je pense que je suis tomber en amour" katanya padaku (kamu tahu Angel, aku kira aku sedang jatuh cinta)
"Hahahaha, je sais bien. Beaucoup de filles veulent être votre petite amie droite. Donc, avec qui avez-vous tomber en amour? Faites-moi savoir"jawabku (ya aku tahu betul, dengan siapa kamu jatuh cinta? Beri tahu aku!)
"vous savez. vous are la personne qui me font tomber en amour Angel. Je veux que tu sois à moi, d'être ma petite amie. Voulez-vous être ma petite amie?" jawabnya (kamu tahu, kamu adalah orang yang membuatku jatuh cinta. Maukah kamu menjadi milikku? Menjadi pacaku?)
"Je attendais le temps comme ça pendant toute ma vie. Je flippe trop peur de mourir vous ne saurez jamais mes sentiments. Mais maintenant, mes rêves. Sûr que je veux être votre petite amie” jawabku (aku telah menunggu momen terbesar seperti ini dalam hidupku. Akhirnya mimpiku jadi kenyataan. Ya, aku mau jadi pacarmu Eric)
Tepat 13 September 2012, pukul 07.30 pm, aku dan Eric resmi menjadi sepasang kekasih tanpa diketahui  oleh siapapun termasuk Opa. Setelah momen yang sangat membahagiakan itu Aku dan Eric menjadi semakin dekat, kami berdua lebih mengenal satu dengan yang lain, aku ingin agar Tuhan menghentikan waktu untuk 2 minggu kedepan. Aku ingin lebih lama bersamanya. Satu minggu berlalu, sekarang tanggal 20 September 2012, happy weekversarry buat aku dan Eric. Belakangan ini aku merasa sedih, 6 hari lagi Eric akan pulang ke Prancis. Disela-sela kesedihanku ini aku malah jarang bertemu dengannya. 4 hari sudah aku tidak melihatnya. Apa mungkin dia sudah bosan? Atau dia sudah melupakanku? Ah tidak mungkin itu terjadi! Pikiranku sungguh kalut, waktuku untuk bersamanya tinggal 2 hari lagi tapi dia sepertinya tidak ingin bertemu denganku. Keesokan harinya sesuatu yang tak kuduga, dia datang ke rumahku dan mengajakku untuk berkeliling Jogja bersamanya. Aku senang akhirnya dia datang dan menemuiku bahkan dia mengajakku untuk berkeliling Jogja walau hari ini adalah hari terakhir aku besamanya. Eric memberikanku kenangan indah yang tak akan pernah aku lupakan, memberikanku sejuta kehangatan dengan kehadirannya, senyumnya, sentuhan tangannya, tawanya yang renyah, dan semua tentangnya mampu mengalihkan duniaku. Sudah sekitar 6 jam kami berkeliling Jogja, akhirnya kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak. Waktu pun seakan tak merelakan kami berdua, adzan maghrib sudah berkumandang, aku segera berpamitan untuk pulang ke rumah. Dia tak mengijinkanku pulang, dia menarik tanganku dan memeluk tubuhku yang mungil dengan sangat erat. Aku mengerti perasannya, karna aku juga merasakan apa yang ia rasakan. Saat itu juga aku menangis dipelukannya, aku tak bisa merelakan kepergiannya ke Prancis. Akhirnya aku menunda kepulanganku dan Eric mengirim pesan singkat pada ayahnya yang adalah Opa angkatku, Eric membisikanku sesuatu. Aku menangis tambah deras seakan air mataku membanjiri ruangan ini.
            “Angel, I know it will be so hard for you to let me go, but I must go for my school and for my life too. I know you’re a strong woman, please don’t be sad and don’t be cry. Thank you for being with me, for being my almost perfect girlfriend, for being my bestfriend, for understanding me, and for every second that you give to me. You’re my end and my beginning, I hope you’ll understand why I must go. If I can choose I’ll choose to stay here with you, and thank you for today you give me the perfect night. I love you, I promise I’ll come back on 2016 but we must stop our relationship. Im sorry because I make you hurt, and I leave you a scars. Two weeks with your perfect love. Thanks Angel” ucapnya lembut setelah itu ia menciumku (Angel, aku tahu ini terlalu buat bagimu untuk melepaskanku, tapi aku harus pergi untuk sekolah dan hidupku. Aku tahu kamu cewek yang kuat, jangan sedih dan jangan nangis. Terimakasih telah bersamaku, telah menjadi pacarku, dan terimakasih buat setiap detik yang kamu berikan untukku. Aku mencintaimu dan aku akan balik ke Indonesia tahun 2016, maaf kita harus mengakihiri hubungan ini, terimakasih buat dua minggu yang penuh dengan cintamu yang sempurna. Terimakasih Angel)
            “I love you more than the words that I can say. Take care of yourself, don’t forget me. And let our love growing up in our heart, I love you too Eric” jawabku sambil menangis (aku mencintaimu lebih dari kata-kata yang bisa kuucapkan. Jaga dirimu baik-baik, jangan lupakan aku. Dan biarlah cinta kita tetap tumbuh dihati kita masing-masing, aku juga mencintaimu Eric)
           
“We cannot be together, but you’re always in my heart for now and forever.” Kata Eric mengakhiri percakapan ini (kita tidak bisa bersama, tetapi kamu akan selalu ada dihatiku untuk sekarang dan selamanya)
Perpisahan yang sungguh mengesankan, terimakasih Eric karna telah mengijinkanku untuk mencintaimu, terimakasih buat setiap momen terindah yang kamu berikan. Aku mencintaimu, dan terimakasih untuk cinta yang terasa begitu sempurna walau hanya dua minggu.
***

Aku menyiapkan segala hal untuk kepergian Eric esok siang. Kami mengantar Eric ke bandara. Walaupun aku sedih karna hanya bisa mengenalnya 3 minggu, tetapi aku belajar banyak hal. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan pertemuan singkat ini akan tertanam dalam memoriku selamanya.
            “See you until next 2016 Eric” bisikku dalam pelukan terakhirrnya (sampai jumpa tahun 2016 Eric)
            “See you soon Angel” ucapnya sambil melepaskan pelukanku (sampai jumpa secepatnya Angel)

            Bandara Adisutjipto menjadi saksi bisu kisah cinta kami. Ya, begitulah ending cerita cintaku dengan Eric. Konyol tetapi penuh dengan keunikan, see you my impossible love. I’ll always love you.

No comments:

Post a Comment