Monday, July 6, 2015

Politic-Morality

Poltitik tidak lebih dari sebuah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong industri yang penuh dengan 'kosmetik' dan 'bumbu-bumbu lainnya', sebagaimana kita harus bersaing dalam dunia politik yang penuh dengan 'bumbu' dan 'rasa' yang berbeda yang mengharuskan kita mampu berdiri sendiri menciptakan 'bumbu' yang baru agar dapat menciptakan 'rasa' yang baru pula sehingga melalui 'bumbu' tersebut kita dapat menjualnya menjadi sesuatu yang memiliki daya pikat tersendiri dan dibeli dengan larisnya oleh para pemilih, here is the example ada pemimpin negara di dunia ini yang dituduh secara massa telah menggelar pesta seks, kemudian ada lagi kepala negara yang hidup dengan wanita lain diluar ikatan pernikahan, dan ada lagi kepala negara yang melagalkan adanya kaum homoseksuali, but hey look at them! they win the competiton dalam pemilu. Ajaib bukan?

Kalimat dan contoh diatas merpakan intermezzo dari saya sebagai pengenalan hubungan antara politik dan moralitas maupun sebaliknya. Setiap negara pasti memiliki hukum dan aturan yang berbeda dan disanalah sistem politiknya berbeda. Well, dalam entri kali ini saya akan membahas tentang isu moralitas dalam politik demokrasi, so here we go!

Pernah mendengar pemilihan umum bukan? pasti 99% dari kalian sudah tidak asing dengan kata diatas, tidak perlu penjelasan panjang lebar tentang apa itu pemilihan umum (pemilu) kalian hanya memasukkan key word pemilu dalam search engine tunggu 5 detik, simsallabim akan muncul jutaan pengertian bahkan jutaan informasi. Back to the topic, apakah politik membutuhkan moralitas? kalau itu pertanyaannya maka jawaban yang saya berikan ya tentu saja, politik membutuhkan moralitas. Kita bisa melihat contoh kasus Nelson Mandela yang menentang apartheid dan Mahatma Gandhi di India yang mengorbankan seluruh harta benda bahkan dirinya untuk sebuah cita-cita yang mulia--------tapi nyatanya malah banyak yang menentangnya.Selain itu saya tidak akan mengatakan bahwa Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi menjual moralitas dalam politiknya. Tidak. Tidak sama sekali. Mungkin saja mereka sedikit diantara politikus yang memang memiliki niat kokoh. But remember one thing, sehebat apa pun ide moralitas yang mereka bawa entah itu perdamaian dunia, kesejahteraan dunia, ataupun kesejahteraan manusia tapi itu tetap bagian dari sebuah politik. Dijual secara invisible dan secara tidak langsung ke masyarakat luas , untuk dibeli, didengarkan serta didukung. Tanpa pengikut (masyarakat pendukung) ide brillian dia atas mungkin sekarang akan tergeletak begitu saja diatas kertas. Dari contoh diatas dapat disimpulkan bahwa ide politik merupakan ide neutral, yang selalu siap menjadi 'barang dagangan' yang dipoles menjadi sesuatu yang memiliki daya tarik dan daya pikat tinggi sehingga banyak yang membelinya

 Disini saya tidak akan mengatakan bahwa moralitas merupakan fatamorgana, karna sejatinya---diakui atau tidak, diterima atau tidak---moralitas hanyalah salah satu omong kosong yang dapat diperjual belikan secara kasat mata dalam bisnis politik. The most important thing here is you should find the formula clearly and find the recipe with dengan pas then it will be the most efective senjata yang akan memenangkan sebuah kompetisi dalam berpolitik. Percaya tidak percaya hal ini telah terbukti, entah visible atau invisible but yeah it happend already. So,bagaimana dengan moralitas? moralitas sejatinya menjadi  urusan masing-masing yang bisa menjadi kontraproduktif, tidak populer jika memaksakan kehendak diri sendiri.

Jadi hubungan antar moralitas dengan politik memiliki kaitan yang sangat erat dan tentu saja memiliki alat penggerak sehingga keduanya dapa berjalan selaras dan seimbang.



No comments:

Post a Comment