Poltitik tidak lebih dari sebuah permainan terbesar dalam bisnis
omong kosong industri yang penuh dengan 'kosmetik' dan 'bumbu-bumbu lainnya',
sebagaimana kita harus bersaing dalam dunia politik yang penuh dengan 'bumbu'
dan 'rasa' yang berbeda yang mengharuskan kita mampu berdiri sendiri
menciptakan 'bumbu' yang baru agar dapat menciptakan 'rasa' yang baru pula
sehingga melalui 'bumbu' tersebut kita dapat menjualnya menjadi sesuatu yang
memiliki daya pikat tersendiri dan dibeli dengan larisnya oleh para pemilih,
here is the example ada pemimpin negara di dunia ini yang dituduh secara massa
telah menggelar pesta seks, kemudian ada lagi kepala negara yang hidup dengan
wanita lain diluar ikatan pernikahan, dan ada lagi kepala negara yang
melagalkan adanya kaum homoseksuali, but hey look at them! they win the
competiton dalam pemilu. Ajaib bukan?
Kalimat dan contoh diatas merpakan intermezzo dari saya sebagai
pengenalan hubungan antara politik dan moralitas maupun sebaliknya. Setiap
negara pasti memiliki hukum dan aturan yang berbeda dan disanalah sistem
politiknya berbeda. Well, dalam entri kali ini saya akan membahas tentang isu
moralitas dalam politik demokrasi, so here we go!
Pernah mendengar pemilihan umum bukan? pasti 99% dari kalian sudah
tidak asing dengan kata diatas, tidak perlu penjelasan panjang lebar tentang
apa itu pemilihan umum (pemilu) kalian hanya memasukkan key word pemilu dalam
search engine tunggu 5 detik, simsallabim akan muncul jutaan pengertian bahkan
jutaan informasi. Back to the topic, apakah politik membutuhkan moralitas?
kalau itu pertanyaannya maka jawaban yang saya berikan ya tentu saja, politik
membutuhkan moralitas. Kita bisa melihat contoh kasus Nelson Mandela yang
menentang apartheid dan Mahatma Gandhi di India yang mengorbankan seluruh harta
benda bahkan dirinya untuk sebuah cita-cita yang mulia--------tapi nyatanya
malah banyak yang menentangnya.Selain itu saya tidak akan mengatakan bahwa
Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi menjual moralitas dalam politiknya. Tidak. Tidak
sama sekali. Mungkin saja mereka sedikit diantara politikus yang memang
memiliki niat kokoh. But remember one thing, sehebat apa pun ide moralitas yang
mereka bawa entah itu perdamaian dunia, kesejahteraan dunia, ataupun
kesejahteraan manusia tapi itu tetap bagian dari sebuah politik. Dijual secara
invisible dan secara tidak langsung ke masyarakat luas , untuk dibeli,
didengarkan serta didukung. Tanpa pengikut (masyarakat pendukung) ide brillian
dia atas mungkin sekarang akan tergeletak begitu saja diatas kertas. Dari
contoh diatas dapat disimpulkan bahwa ide politik merupakan ide neutral, yang
selalu siap menjadi 'barang dagangan' yang dipoles menjadi sesuatu yang
memiliki daya tarik dan daya pikat tinggi sehingga banyak yang membelinya
Disini saya tidak akan mengatakan bahwa moralitas merupakan
fatamorgana, karna sejatinya---diakui atau tidak, diterima atau
tidak---moralitas hanyalah salah satu omong kosong yang dapat diperjual belikan
secara kasat mata dalam bisnis politik. The most important thing here is you
should find the formula clearly and find the recipe with dengan pas then it
will be the most efective senjata yang akan memenangkan sebuah kompetisi dalam
berpolitik. Percaya tidak percaya hal ini telah terbukti, entah visible atau
invisible but yeah it happend already. So,bagaimana dengan moralitas? moralitas
sejatinya menjadi urusan masing-masing yang bisa menjadi kontraproduktif,
tidak populer jika memaksakan kehendak diri sendiri.
Jadi hubungan antar moralitas dengan politik memiliki kaitan yang
sangat erat dan tentu saja memiliki alat penggerak sehingga keduanya dapa
berjalan selaras dan seimbang.
No comments:
Post a Comment